Bab 61

1072 Words

Mark turun lebih dulu dari tangga jet pribadinya, lalu menoleh ke belakang dan mengulurkan tangan kepada Giana. Angin panas Jakarta menyambut mereka, berbeda jauh dari Los Angeles yang dinginnya menusuk tulang. Giana berdiri di mulut pintu pesawat, terpaku, matanya berkaca-kaca melihat landasan yang begitu ia kenal namun terasa asing setelah hampir dua bulan penuh drama, pelarian, ketakutan, dan… keterikatan aneh dengan Mark yang semakin sulit ia definisikan. Giana menggenggam tangan Mark dengan sedikit ragu. “Kita benar-benar di Jakarta…” bisiknya lirih. Mark menatapnya dengan ekspresi yang tenang tapi tajam. “Ya. Kamu pulang bersamaku.” Giana terhenyak mendengar pilihan kata itu. Bersamaku. Bukan Aku memulangkanmu. Bukan Kita kembali. Tapi bersamaku. Penegasan yang membuat tengkuknya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD