Bab 98

2372 Words

Mark membuka pintu rumah perlahan, memastikan tidak ada suara keras yang bisa membangunkan Giana. Begitu memasuki ruang tengah, ia melihat gadis itu duduk di sofa dengan wajah cemberut, lengan menyilang di depan d**a, matanya menatap tajam ke arahnya. Tubuhnya tegak, tapi jelas terlihat ia merasa kesal dan cemas. Mark tersenyum tipis melihat ekspresi Giana. Senyum itu bukan senyum biasa; itu senyum lembut yang penuh perhatian dan kasih sayang. “Hai, Gi,” sapanya lembut. Giana menoleh, tatapannya langsung menantang. “Mark, ke mana kau tadi? Kau pergi tanpa bilang padaku,” suaranya sedikit meninggi, jelas menunjukkan kemarahan dan kekhawatirannya. Mark melangkah mendekat, menatap gadis itu dengan mata yang tenang namun serius. “Aku pergi sebentar, tapi semuanya baik-baik saja. Jangan khaw

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD