Lima hari sebelum hari pernikahan yang sudah direncanakan dengan begitu matang, pagi itu dimulai dengan suasana yang tidak biasa di penthouse Mark. Biasanya Giana selalu bangun lebih dulu, berjalan tanpa suara ke dapur, menyiapkan teh hangat untuk dirinya sendiri, lalu duduk di sofa sambil membuka catatan kecil berisi daftar persiapan pernikahan yang masih ingin ia cek ulang. Namun pagi itu, tempat tidur masih terasa kosong di sisi Mark ketika ia terbangun. Mark mengernyit pelan. Ia menoleh ke arah kamar mandi, tidak mendengar suara air. Ia duduk, menunggu beberapa detik, lalu berdiri dan melangkah keluar kamar. “Giana?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Mark berjalan ke ruang tengah, lalu ke dapur. Di sana ia menemukan Giana duduk di kursi makan, tubuhnya sedikit membungkuk, wajahnya p

