Di kamar hotel yang remang oleh sinar lampu sore, Giana tertidur di kursi malas yang empuk. Tubuhnya berbaring tenang, rambutnya terurai di bantal, wajahnya yang biasanya penuh ekspresi kini tampak damai dan polos. Mark duduk di sampingnya, matanya menatap setiap garis wajah Giana dengan penuh perhatian. Hatinya terasa berat, sedih, dan penuh perasaan bersalah. Ia merasakan kesedihan yang begitu dalam melihat gadis itu—yang ia cintai, yang ia ingin lindungi—terluka karena tekanan dan tuntutan yang datang dari orang tua dan dunia sekitarnya. Setiap helaan napasnya seolah membawa beban dunia, karena ia tahu semua ini bukan hanya masalah eksternal, tapi juga akibat dari pilihan-pilihan yang pernah ia ucapkan. Mark mencondongkan tubuhnya sedikit, mengusapkan tangannya perlahan di rambut Gian

