Bab 89

1859 Words

Di rumah besar yang selalu tampak rapi itu, Arka berdiri di ruang tengah, ponsel di tangannya, wajahnya memerah setengah marah setengah tegang. Ia baru saja menelepon Giana untuk yang kelima kalinya hari itu. Suara kerasnya menembus jarak, menuntut kepatuhan dari putrinya yang kini jauh di pantai hotel, di tepi laut yang tenang namun penuh ketegangan bagi Giana. “Giana!” suara Arka terdengar jelas melalui speaker ponsel. “Kamu harus pulang sekarang! Tidak ada alasan menunda lagi! Aku tidak peduli kamu mau atau tidak, ini demi masa depanmu!” Di sisi lain layar, Giana menundukkan wajahnya, bahunya gemetar. Tangis yang ia tahan sejak beberapa hari lalu kini kembali meledak, lebih keras, lebih penuh rasa sakit. Ia merasa seperti sedang dicabik-cabik antara kehendaknya sendiri dan tuntutan ay

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD