Bab 146

1383 Words

Mark duduk di ruang tamu rumahnya, jasnya sudah diganti dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, dasinya lepas. Tangannya menopang dagu, matanya menatap kosong ke luar jendela, menembus kegelapan malam Jakarta. Hujan tipis membasahi jalanan, tapi Mark tidak peduli. Semua pikirannya tertuju pada Herman dan Darman, dua karyawan yang telah mengkhianati perusahaannya. Giana duduk di sampingnya, selimut tipis menyelimuti bahunya. Ia memegang tangan Mark lembut, menatap suaminya dengan mata penuh perhatian. “Mark… kau terlalu tegang. Jangan terlalu memikirkan besok,” ucap Giana lembut, suaranya menenangkan. Mark menoleh sebentar, menatap Giana, lalu tersenyum tipis. “Aku tahu… tapi ini penting, Giana. Kalau mereka lolos, itu akan menjadi preseden buruk untuk perusahaan. Ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD