"Saya sudah meninjau poin-poin Anda. Menarik, tapi saya tidak bekerja di balik layar. Jika Anda serius ingin menghancurkan lawan Anda, temui saya besok pagi jam 08.00 tepat di Menara Pratama, Lantai 45, SCBD. Jangan terlambat satu menit atau anggap penawaran ini hangus. Saya tidak memberikan kesempatan kedua." Napas Sena tercekat. Harapan itu ada, namun syaratnya mutlak. Ia baru saja hendak berbalik untuk memberitahu Umi, namun pemandangan di depannya berubah menjadi mimpi buruk. Suara butiran tasbih yang berhamburan di atas lantai marmer terdengar seperti ledakan di telinga Sena. Ia menoleh dan melihat tubuh Ibu Lastri sudah meluncur jatuh dari kursi tunggu. "Ibu!" Umi Sena memekik, mencoba menahan bahu Ibu Lastri agar tidak menghantam lantai. Wajah ibu mertuanya pucat pasi, matanya

