Sena berdiri kaku di depan pintu IGD sambil mendekap kantong plastik berisi barang-barang suaminya. Tidak lama kemudian, derap langkah terburu-buru menggema di lorong rumah sakit. Bu Lastri datang dengan wajah pucat pasi, disusul oleh Umi yang langsung menghambur ke arah Sena. Umi segera menarik Sena ke dalam pelukan hangatnya. Sena terisak di bahu ibunya, tubuhnya gemetar hebat menahan beban kenyataan yang menghantamnya bertubi-tubi malam ini. "Istighfar, Nak. Istighfar," bisik Umi sambil mengusap punggung Sena. Sena melepaskan pelukan Umi lalu beralih memeluk Bu Lastri. Kedua wanita itu bersandar satu sama lain dalam duka yang sama. Tangis Bu Lastri yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah di pundak menantunya. Suara isakannya terdengar begitu menyayat hati di lorong yang sun

