Bab 9 - Buka Cadar

1178 Words
"Bawa barang-barangmu sendiri. Aku bukan pelayanmu," ucap Baskara dingin tanpa menoleh sedikit pun saat mereka baru saja turun dari mobil. Senandika hanya mengangguk pelan di balik cadarnya. Ia mengambil tasnya sendiri tanpa berkata apa-apa. Lima hari di hotel mewah itu sama sekali tidak terasa seperti bulan madu. Lebih mirip hari-hari panjang yang menekan, penuh rasa takut dan tangis yang selalu ia simpan sendiri. Selama di hotel, Senandika selalu berjaga. Ia tak pernah benar-benar terlelap sebelum memastikan Baskara sudah tidur lebih dulu. Setelah mendengar napas lelaki itu teratur, barulah ia berani memejamkan mata. Pagi hari selalu ia jalani dengan cepat. Saat Baskara terbangun, Senandika sudah duduk rapi, berpakaian tertutup, cadarnya terpasang kuat. Kain hitam itu seakan menjadi jarak yang sengaja ia pasang di depan Baskara. Kini mereka telah sampai di kediaman besar keluarga Aditama. Bu Lastri sudah berdiri di teras rumah dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. "Assalamu’alaikum, Ibu," sapa Senandika lembut. Ia mendekat dan mencium punggung tangan mertuanya. "Wa’alaikumussalam, Senandika sayang. Akhirnya kalian sampai juga," balas Bu Lastri sambil memeluk bahu menantunya itu erat. Baskara menyusul di belakang dengan langkah berat. Saat mata mereka bertemu, Baskara tampak sangat malas untuk sekadar melempar senyum atau menyapa ibunya. "Bu." Bu Lastri pun membalasnya dengan tatapan yang tak kalah dingin. Sejak panggilan telepon penuh amarah tempo hari, hubungan ibu dan anak ini mendadak menjadi tegang. Tanpa memedulikan putranya, Bu Lastri langsung menarik tangan Senandika. "Ayo masuk, Sena. Ibu sudah siapkan kamar pengantin yang jauh lebih cantik di dalam. Ini rumah kamu sekarang." Bu Lastri berjalan menuntun Senandika masuk ke dalam rumah, memperlakukan wanita bercadar itu seolah dia adalah anak kandung yang paling berharga. "Rumah sendiri katanya," cibir Baskara. Baskara ditinggal begitu saja di teras, berdiri mematung dengan perasaan dongkol yang mulai merayap naik ke ubun-ubun. "Ya, seperti itulah. Sebenarnya siapa sih anaknya?" Baskara mendengus kasar. Ia merasa sangat terasing di rumah tempat ia dibesarkan. Ia heran melihat betapa cepatnya Senandika mengambil hati ibunya. Apa sih bagusnya Senandika? Batin Baskara sinis. Namun saat ia mencoba mencari kekurangan dalam pikirannya, memori di hotel itu kembali muncul. Bayangan wajah cantik Senandika yang tanpa sengaja ia lihat saat tertidur kembali mengusik pikiran Baskara. Baskara segera menggelengkan kepala dengan gusar. Ia berusaha keras menghapus sisa-sisa kekaguman yang sempat hinggap di hatinya. "Percuma saja punya wajah cantik kalau nyatanya dia hanya jadi penjilat demi menarik perhatian Ibu," gumamnya. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam kamar luas yang telah dihias dengan rangkaian bunga segar dan aromaterapi yang menenangkan, Bu Lastri segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. "Masuk, Sena." Ia ingin memastikan tidak ada gangguan, terutama dari putranya yang masih bermuka masam di luar sana. Bu Lastri menuntun Senandika untuk duduk di tepi ranjang besar itu. Beliau menggenggam jemari menantunya dengan lembut, lalu menatap lekat sepasang mata yang tampak lelah tersebut. "Sena, apa kamu baik-baik saja? Kejadian kemarin, Ibu udah marahin Baskara, apa dia minta maaf ke kamu?" Senandika mengangguk. Ia tidak mau membahasnya lebih detil. "Iya, Bu, tidak ada masalah kok." "Sena, jujur sama Ibu. Apa selama lima hari di hotel kemarin, kamu sama sekali tidak membuka cadarmu?" tanya Bu Lastri penuh selidik. Senandika tertegun. Ia menunduk dalam, merasakan kerongkongannya mendadak kering. Perlahan, ia menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Sena, jawab Ibu dengan jujur. Apa kemarin tidak terjadi sesuatu di antara kalian?" suara Bu Lastri merendah, penuh harap namun juga terselip kecemasan. "Em, apa maksudnya, Bu?" Senandika meneguk ludah dengan susah payah. Ia tahu persis ke arah mana pembicaraan ibu mertuanya ini bermuara. Keinginan setiap orang tua yang baru saja menikahkan anaknya adalah mendengar kabar bahagia tentang kedekatan mereka. "Sena, kamu pasti tahu, kan, apa maksud ibu, Nak?" "Oh, tentang kedekatan ku dengan Mas Baskara, ya?" kata Sena, pelan. Senandika tahu, besar harapan Bu Lastri pada pernikahan mereka. Namun, apa yang Bu Lastri harapkan rasanya mustahil menjadi kenyataan. Bagaimana mungkin sesuatu terjadi jika untuk sekadar melihat wajahnya saja Baskara sudah merasa muak. Bu Lastri menghela napas panjang melihat kebuntuan di mata menantunya. Beliau kemudian membelai sisi wajah Senandika yang tertutup kain hitam itu dengan gerakan memohon. "Anak bodoh itu, dia buta atau apa sih!" gerutu Bu Lastri. "Bu, gapapa, lagipula ini salahku, karna aku mempertahankan cadar." "Sena, Baskara suamimu, tak perlu pakai cadar kalau hanya berdua kan?" Senandika mengangguk pelan. Ia tahu, dia tak mungkin tidak tahu. "Buka cadarmu sekarang, Nak. Ibu ingin melihatmu. Lagipula di sini tidak ada siapa-siapa, hanya ada Ibu," ucapnya lembut. Senandika menatap mata ibu mertuanya yang penuh ketulusan. Ia merasa tidak enak jika harus menolak permintaan wanita yang sudah begitu baik padanya. Lagipula, di kamar ini memang hanya ada mereka berdua. Dengan gerakan perlahan dan tangan yang sedikit gemetar, Senandika melepas ikatan kain itu dari balik kepalanya. Cadar itu merosot jatuh, menampakkan wajah yang selama ini tersembunyi rapat. "Maaf, Bu. Sena hanya belum terbiasa," ucap Senandika lirih dengan wajah yang sedikit memerah karena malu. "Lihatlah, kamu sangat cantik, Sena." Kecantikan Senandika tampak begitu nyata dan menyejukkan mata, jauh lebih indah dari yang diingatnya saat terakhir kali melihat Sena tanpa cadar sebelum pernikahan. Gurat kelelahan di wajah itu justru menambah kesan manis yang alami. Ibu mana yang tidak akan naik darah melihat kenyataan ini. Bu Lastri merasa sangat kesal sekaligus gemas pada putranya sendiri. Bagaimana bisa Baskara bertindak sebodoh itu. Jika dibandingkan dengan Sarah, wanita yang disebutnya sebagai ular itu, jelas sekali semua orang yang memiliki mata normal akan setuju bahwa Senandika jauh lebih cantik dari sudut mana pun. Bukan hanya parasnya yang memikat, tapi ada aura ketenangan yang tidak akan pernah dimiliki oleh wanita seperti Sarah. "Sena, maafkan Baskara, ya, Sayang. Ibu harap kamu bersabar, oke?" Senandika tersenyum getir. Wanita di hadapannya sangat baik, apa jadinya jika dia berkata, bahwa dirinya jujur tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa suaminya tak mungkin mencintainya. Apalagi setelah kejadian Sarah datang ke hotel dan memeluk Baskara amat leluasa. Hati wanita mana yang tidak sakit, meski belum ada cinta, tapi Senandika punya hati dan punya harga diri. "Sena, ibu mohon, malam ini kamu tak perlu pakai cadarmu, ya. Lagipula, Baskara sah menjadi suamimu, Sayang. Biarkan Baskara menatap dengan mata kepalanya, kalau kamu cantik." Sena sedikit membulatkan mata, lalu ia menunduk. Bagaimana caranya, dia tidak mungkin memberitahu ibu mertuanya kalau suaminya itu tidak sudi melihat apa yang ada dibalik cadarnya. "Bu, tapi Mas Baskara —" "Kenapa? Apa Baskara, astaghfirullah, nggak mungkin Baskara melarang kamu buka cadarnya, kan, Sayang?" Senandika meneguk ludah, kenapa Bu Lastri sangat peka. "Bu, begini, mungkin karna Mas—" "Nggak, Sena, ini nggak bisa dibiarkan. Suamimu bisa berdosa kalau begini, apa dia masih terbayang-bayang wanita lain. Padahal kamulah istri sahnya. Kenapa dia melarang kamu buka cadar, kamu ngga perlu dengarkan dia, Sayang." Aku menatap Bu Lastri cemas. "Bu, tapi bukan begitu maksudnya, aku juga belum siap, belum leluasa," gelengku. "Sayang, wajar. Karna kamu dan Baskara butuh adaptasi. Justru ini salah satu langkah awal, ibu mohon, ya, Sena. Turuti ibu, ibu yakin, Baskara tidak akan marah kalau melihat wajah cantikmu." Senandika terdiam, mustahil begitu. Baskara sudah pernah melihatnya, kan. Walaupun tak sengaja. Dan paginya jelas sekali Baskara menekankan agar Senandika tak nekat menunjukkan wajahnya walaupun tanpa sengaja. "Sena, kamu mau janji pada ibu, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD