Senandika hanya sendirian di kamar luas itu. Senandika mulai gusar, antara membuka cadar, atau tetap mengenakannya.
Dia sudah duduk di depan cermin, mengenakan gaun tidur panjang berlengan yang tertutup namun nyaman dikenakan.
Tentu saja kerudungnya juga masih bertengger kokoh di kepalanya, menutupi keindahan rambutnya yang ada di baliknya.
"Apa aku harus melakukan seperti yang ibu katakan?" gumam Sena, menatap pantulan sepasang matanya di cermin.
"Bagaimana kalau setelah ini, Mas Baskara malah makin kesal padaku, ya?" ucap Sena, dia makin bimbang.
"Tapi, aku sudah janji pada Ibu. Aku harus menepatinya."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sena akhirnya membuka cadarnya. Tak berhenti di situ, ia juga perlahan melepas kerudungnya.
Seketika, rambut hitamnya yang indah terurai, membingkai wajah cantiknya yang kini terpampang nyata.
Leher jenjangnya yang halus menambah kesan menawan pada penampilannya malam itu.
Namun, alih-alih merasa percaya diri, hati Sena justru semakin tidak tenang.
Ia merasa telanjang tanpa perlindungan kain-kain itu. Takut jika Baskara masuk dan langsung menghujamnya dengan kata-kata kasar, Sena bergegas menuju ranjang.
Ia berbaring dan menarik selimut tebal itu hingga menutupi seluruh tubuhnya. Karena saking gugupnya, ia bahkan menarik selimut itu melewati kepala, membuat dirinya sepenuhnya bersembunyi di dalam gundukan selimut yang hangat.
Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar terbuka. Langkah kaki yang berat masuk ke dalam ruangan. Itu Baskara.
Baskara menghentikan langkahnya sejenak, matanya langsung tertuju pada ranjang. Ia menatap gundukan selimut yang tampak mencurigakan itu dengan kening berkerut.
Apa ada Senandika di sana? batin Baskara heran.
Namun, ego Baskara masih terlalu besar untuk sekadar menyapa atau bertanya. Ia mendengus pelan, lalu mulai melepas kancing kemejanya satu per satu dengan gerakan acuh tak acuh.
Tanpa memedulikan keberadaan istrinya, Baskara menyambar handuk dan langsung melangkah masuk ke kamar mandi.
Di balik selimut yang gelap dan pengap, Senandika menghela napas panjang saat mendengar suara pintu kamar mandi tertutup dan suara air yang mulai mengalir.
Jantungnya masih berdegup kencang, namun setidaknya ia punya waktu beberapa menit untuk menyiapkan diri sebelum akhirnya harus benar-benar berhadapan dengan suaminya tanpa cadar di wajahnya.
"Tenanglah, Sena, ini bukan kesalahan. Kenapa kamu seolah-olah akan berbuat dosa. Ingat itu, dia suamimu, meskipun tak sudi melihatmu, kamu punya hak menunjukkan wajahmu, suka atau tidak suka dirinya melihatmu, kan?" gumam Senandika, miris.
**
Baskara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya sementara rambutnya masih sedikit basah. Ia tidak segera melirik ke arah ranjang melainkan berjalan lurus menuju lemari besar untuk mengambil baju tidurnya.
Setelah berpakaian lengkap ia berbalik dan tatapannya kembali tertuju pada gundukan selimut di atas ranjang yang terlihat sangat aneh. Ia merasa heran kenapa istrinya itu masih betah bersembunyi seperti orang ketakutan padahal ruangan itu sudah tertutup rapat.
Baskara kemudian melangkah mendekat dan duduk di sisi ranjang yang kosong. Ia sengaja menaruh guling di tengah sebagai pembatas yang tegas agar tidak ada kontak fisik yang terjadi di antara mereka.
Bukannya menyapa atau memastikan keadaan istrinya ia justru meraih ponsel yang tergeletak di nakas.
Matanya seketika terbelalak saat melihat notifikasi pesan masuk dari Sarah. Saat layar itu terbuka terpampang foto Sarah yang mengenakan lingerie sangat seksi. Baskara meneguk ludah dengan susah payah merasakan gejolak insting pria dalam dirinya yang bertarung dengan rasa lelah.
Sarah, kamu gila, ya. Batin Baskara.
Ia lalu menatap gundukan di sebelahnya yang tampak bergerak-gerak kecil menunjukkan bahwa orang di dalamnya masih terjaga.
Baskara meletakkan ponselnya dengan kasar lalu mengembuskan napas panjang dengan nada penuh kejengkelan.
"Apa mau kamu Sena? Kamu ingin aku dimarahi Ibu lagi karena kamu di dalam sana kehabisan napas? Bayangkan saja kamu sudah pakai penutup wajah lalu bersembunyi lagi di balik selimut tebal ini. Aku benar-benar heran kenapa tingkahmu ada-ada saja dan selalu membuatku kesal?" ucap Baskara dengan nada ketus.
Di dalam sana Senandika meremas ujung selimutnya kuat-kuat.
Jantungnya berdegup kencang karena ia tahu sebentar lagi ia harus menunjukkan wajah aslinya secara terang-terangan untuk pertama kali, secara sadar, bukan karena tidak sengaja membukanya.
"Maaf, Mas. Tidurlah, Mas pasti lelah," ucap Senandika.
"Apa kamu bilang? Kalau bukan karena ibu memaksaku tidur di sini, dan mengurung kita agar tak keluar. Aku takkan sudi tidur denganmu, Sena."
"Mas, kenapa kamu sinis terus, sih? Aku tidak melakukan apa-apa. Kalau tak suka, tidak perlu anggap aku ada. Atau aku akan ke sofa."
"Hah, setelah itu ibu kembali akan memaki aku. Lelah sekali, kenapa aku harus mengalami ini, sih!"
"Kenapa kamu harus secemas itu, kamu yang takut melawan ibu karna kalau ibu marah, kamu terancam dicoret dari ahli waris, kan, Mas?"
Entah keberanian darimana, untuk pertama kalinya Senandika menjawab Baskara dengan nada menantang. Baskara melotot, menatap selimut di sampingnya, lalu menyibaknya kasar.
"Kamu bilang apa, Sen—"
Baskara tersentak hebat hingga jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Tangannya yang masih mencengkeram ujung selimut mendadak kaku dan membeku di udara.
Jadi, ini yang disembunyikan Senandika dibalik selimut tebal hingga membentuk gundukan aneh. Senandika melepas jilbabnya dan cadarnya.
Rambut hitamnya yang panjang dan halus tergerai acak di atas bantal putih kontras dengan kulit lehernya yang jenjang dan nampak sangat bersih.
Penampilan alaminya begitu memukau dengan bulu mata lentik yang masih sedikit basah karena sisa tangis serta bibir merah muda yang bergetar karena rasa takut sekaligus marah yang bercampur jadi satu.
Dalam balutan gaun tidur panjang yang sopan namun tetap memperlihatkan lekuk bahunya yang mungil Senandika tampak sangat menawan.
Aura kecantikan yang murni dan menyejukkan terpancar dari wajahnya yang polos tanpa riasan sedikit pun.
Baskara benar-benar terbungkam seribu bahasa. Amarah yang tadi meluap sampai ke ubun-ubun mendadak padam seketika digantikan oleh rasa takjub yang menghujam egonya.
Pria itu bahkan lupa untuk mengedipkan mata saat memandang wajah istrinya yang selama ini ia hina sebagai penjilat.
Senandika yang merasa diperhatikan dengan tatapan seintens itu langsung menarik bantal untuk menutupi dadanya meski ia sudah mengenakan pakaian tertutup.
Ia merasa sangat malu sekaligus terhina karena Baskara menatapnya seperti sedang melihat orang asing yang aneh.
"Puas kamu sekarang Mas?" tanya Senandika dengan suara bergetar menahan tangis yang kembali mendesak keluar.
"Aku melakukan ini hanya karena menuruti keinginan Ibu. Kamu selalu bilang aku penjilat dan pembawa masalah kan?"
Senandika berusaha duduk sambil terus memeluk bantalnya erat-erat untuk melindungi diri dari pandangan Baskara yang masih belum beralih.
Baskara masih tidak menjawab. Ia justru teringat kembali pada foto Sarah yang baru saja ia lihat di ponselnya.
Entah kenapa kecantikan liar dan terbuka yang dipamerkan Sarah mendadak terasa hambar dan tidak ada harganya sama sekali jika dibandingkan dengan kecantikan suci dan alami milik Senandika yang kini ada di depannya.
"Kamu lakukan ini sengaja untuk menggodaku, ya, Sena?"
Senandika tersentak mendengar tuduhan itu. Matanya yang jernih kini berkaca-kaca menatap Baskara dengan penuh rasa tidak percaya. Ia merasa seolah-olah seluruh harga diri yang ia coba pertahankan dengan melepas cadar ini diinjak-injak begitu saja.
"Menggoda?" Senandika mengulang kata itu dengan suara yang hampir habis karena sesak.
"Bagaimana mungkin aku berniat menggoda pria yang bahkan tidak sudi melihat wajahku? Pria yang hatinya sudah penuh dengan wanita lain?"
Senandika menggeser duduknya menjauh dari Baskara hingga mepet ke pinggiran ranjang. Ia merapatkan pelukannya pada bantal seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki saat ini.
"Ibu yang memintaku. Ibu ingin aku mulai membiasakan diri menjadi istrimu seutuhnya di rumah ini. Tapi aku salah. Harusnya aku tahu kalau Mas tetap akan mencari celah untuk menghinaku apa pun yang aku lakukan."
"Kenapa diam, Mas? Kalau Mas merasa terganggu dengan kehadiranku yang seperti ini Mas bisa matikan lampunya sekarang. Aku tidak akan mengganggumu."
Senandika menarik kembali selimutnya dengan gerakan cepat untuk menutupi bahunya.
Baskara masih tidak bergerak dari tempatnya. Alih-alih mematikan lampu seperti yang diminta Senandika, ia justru tetap terpaku menatap wajah istrinya yang kini memerah karena menahan emosi.
Ada sesuatu yang aneh mulai menjalar di pembuluh darah Baskara. Rasa benci yang biasanya menjadi benteng pertahanannya kini mendadak goyah digantikan oleh ketertarikan yang sangat liar.
Pemandangan Senandika tanpa jilbab di hadapannya benar-benar membuat logika Baskara tumpul. Rambut hitam yang berantakan itu justru terlihat sangat menggoda di matanya.
Apalagi saat Senandika menarik selimut, aroma tubuh istrinya menguar, memenuhi indera penciumannya.
Baskara merasakan dadanya bergemuruh hebat saat oksigen di sekitarnya seolah mendadak habis digantikan oleh aroma tubuh Senandika.
Darahnya berdesir kencang menuju satu titik bawah yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Baskara tersentak saat merasakan area di bawah perutnya mulai bereaksi dengan sangat kuat hingga terasa sesak di balik celana tidurnya.
Ia membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang sedang dialami tubuhnya sendiri.
Dengan gerakan refleks yang penuh kepanikan ia menyentuh bagian bawah tubuhnya dan seketika ia merutuk dalam hati saat mendapati miliknya sudah mengeras dengan sempurna hanya karena menatap Senandika.
Gila. Aku benar-benar sudah gila. Batin Baskara sambil mencengkeram sprei ranjang dengan tangan yang bergetar.
"Parfum apa yang kamu pakai?" tanya Baskara dengan suara rendah dan ketus.
Ia mengatur napasnya yang mulai pendek dan tidak beraturan, sementara matanya masih tak bisa lepas dari leher putih Senandika yang terekspos karena rambutnya yang tersampir ke samping.
Senandika yang masih memeluk bantal erat-erat hanya bisa terpaku. Pertanyaan itu terasa sangat aneh di tengah ketegangan yang ada. Ia tidak merasa memakai parfum apapun. Apa baunya seaneh itu? Batinnya kembali merasa terhina.
"Jawab, Sena!" desak Baskara lagi, kali ini dengan rahang yang semakin mengatup rapat.
Gairah yang sedari tadi membuncah kini membuat suhu tubuhnya naik drastis.
"Kenapa kamu marah terus, sih, Mas? Aku harus apa? Aku nggak pakai parfum, puas kamu!!"
Baskara mematung.
"Nggak mungkin."
"Apa bauku pun kamu nggak suka??" tanya Sena sambil menahan diri.
Jika Senandika tidak memakai parfum, berarti aroma memabukkan yang sedari tadi mengacaukan sarafnya adalah aroma alami tubuh istrinya sendiri.
Kenyataan itu membuat gairah Baskara meledak tanpa bisa dibendung lagi.
"Diam, Sena!" geram Baskara dengan suara parau yang sarat akan keinginan.
Bukannya menjauh, Baskara justru merangsek maju dengan gerakan cepat. Ia menarik guling yang menjadi pembatas di antara mereka dan melemparkannya ke lantai begitu saja.
Senandika terpekik kecil dan berusaha mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang, namun Baskara sudah lebih dulu mengunci pergerakannya.
Baskara menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Senandika, memerangkap wanita itu dalam jangkauannya.
Jarak mereka kini begitu tipis hingga Senandika bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh Baskara serta deru napas suaminya yang memburu di permukaan kulit wajahnya.
"Mas ... apa yang kamu lakukan? Lepas!" bisik Senandika dengan suara gemetar hebat.