Senandika terbangun dengan mata sembap dan tubuh yang terasa remuk. Dengan tangan gemetar, ia menyibak sedikit selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Dunianya seolah runtuh saat matanya tertuju pada bercak merah di atas sprei putih itu. Ia telah menyerahkan segalanya. Keperawanan yang ia jaga dengan penuh kehormatan selama ini, telah hilang dalam sebuah malam yang penuh paksaan dan penghinaan. Di sampingnya, Baskara masih terlelap. Pria itu tidur dengan raut wajah yang tampak sangat puas, kontras dengan hancurnya perasaan Sena. Melihat wajah tenang suaminya justru membuat d**a Sena semakin sesak. Ia teringat bagaimana Baskara berbisik tentang wanita lain di tengah aksinya yang brutal semalam. Sena menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isak tangis agar tidak mengeluarkan s

