Setelah menyelesaikan sarapan yang terasa mencekam itu, Baskara segera bergegas menuju kantor tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Senandika. Ia butuh ruang untuk bernapas, menjauh dari tatapan menuntut ibunya dan wajah rapuh Sena yang terus menghantuinya. Begitu Baskara melangkah masuk ke lobi kantor, sekretarisnya langsung menghampiri dengan raut wajah sungkan. "Pak Baskara, ada Ibu Sarah sudah menunggu di dalam ruangan Anda sejak tadi." Baskara menghela napas panjang. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ancaman ibunya tadi pagi masih terngiang, namun rasa penasarannya pada Sarah tetap tak bisa ia tepis sepenuhnya. Begitu pintu ruangan terbuka, Sarah yang duduk di sofa langsung berdiri. Wajahnya yang penuh riasan bold itu merekah. Ia langsung menghambur dan meny

