Baskara terdiam sejenak, rahangnya mengeras mendengar pilihan yang disodorkan Sena. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Sena terpaksa mundur dan terbentur meja kerja. "Kamu suruh aku pilih?" Baskara tertawa sumbang, matanya berkilat dingin. "Kamu pikir dunia ini hitam putih, Sena?" "Jawab, Mas! Ibu, atau wanita itu?" tantang Sena dengan suara pecah. Baskara mencengkeram pinggiran meja, mengurung tubuh Sena di antaranya. "Aku pilih Ibu! Dan karena aku pilih Ibu, maka kamu harus tetap di sini. Kamu tetap jadi istriku, tetap melayani aku, dan tetap bersandiwara di depan Ibu!" "Itu namanya kamu egois, Mas! Kamu mau menyiksaku?!" "Sadar diri, Sena!" bentak Baskara tepat di wajahnya. "Ingat siapa yang membiayai renovasi besar-besaran pesantren Umi kamu saat hampir roboh dua ta

