Baskara melangkah keluar dari lift dengan napas yang sedikit tidak beraturan. Matanya menyisir seisi lobi sampai ia menemukan sosok Senandika yang berdiri kaku di dekat pilar besar. Cadar hitamnya menutupi wajah, namun tatapan matanya yang lelah tetap tak bisa disembunyikan. Baskara berdeham keras untuk menetralkan kegugupannya, sekaligus memastikan tidak ada aroma Sarah yang terlalu menempel di bajunya. Senandika menoleh, lalu perlahan mendekat dan menyalami tangan suaminya dengan gerakan formal yang sangat dingin. "Kamu ke sini cuma mau antar bekal karena Ibu yang minta?" tanya Baskara dengan nada ketus, berusaha menutupi rasa cemasnya kalau-kalau Sarah tiba-tiba muncul di balkon lantai atas. "Iya, Mas. Maaf ganggu," jawab Sena singkat. Suaranya terdengar datar. "Kamu sangat men

