Ardi melepaskan kulumannya dari p******a Amelia dengan suara basah yang memalukan. Lidahnya meninggalkan benang saliva yang tipis dan berkilau, menjuntai sebentar sebelum putus dan jatuh ke kulit Amelia yang sudah basah. Payudara wanita itu kini basah, merah membara, putingnya bengkak, basah, dan mengkilap karena gigitan serta jilatan paksa yang tak henti-hentinya, setiap sentuhan meninggalkan bekas merah yang membara seperti cap kepemilikan. Amelia terengah-engah, d**a naik-turun dengan cepat, air mata masih mengalir deras di pipinya, membasahi lehernya yang gemetar. Rasa perih di putingnya bercampur dengan dinginnya udara AC, membuat tubuhnya merinding, tapi bukan karena dingin, itu karena ketakutan yang merasuk hingga ke tulang. Tanpa sepatah kata pun, Ardi bangkit dari atas tubu

