Waktu seolah merangkak dengan kaki-kaki yang penuh duri, lambat dan menyakitkan. Jarum jam menunjukkan pukul 12:15 siang, saat di mana hiruk-pikuk kantin kantor mulai terdengar seperti dengung lebah yang menyakitkan di telinga Amelia. Di tengah kebisingan itu, Amelia duduk berhadapan dengan Vina, sahabat sekaligus rekan kerjanya yang paling dekat. Vina adalah sosok yang ceria, namun di balik tawanya yang renyah, ia memiliki intuisi yang tajam. Sejak mereka duduk di meja pojok yang agak tersembunyi, sebuah upaya sia-sia Amelia untuk menghilang dari pandangan dunia. mata Vina tak lepas memperhatikan Amelia yang hanya mengaduk-aduk salad buahnya tanpa minat. Potongan apel dan pir itu kini tampak layu, semenyedihkan perasaan orang yang mengaduknya. "Mel, kamu oke? Wajahmu pucat sek

