Amelia terbangun, bukan karena alarm yang setia berdering setiap pagi, bukan pula karena panggilan lembut Bima yang biasa membangunkannya dengan ciuman di kening. Ia terbangun oleh keheningan yang mematikan, keheningan yang terasa lebih berat dari suara apa pun, keheningan yang menggerogoti hingga ke tulang sumsum. Hidungnya mencium aroma asing dari parfum mahal, aroma yang menusuk, masih tertinggal di udara. Aroma itu, meskipun mewah dan mahal, kini terasa seperti bau busuk yang mengotori setiap kenangan dan setiap sudut jiwanya. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar hotel yang tinggi dan asing, tanpa ornamen, tanpa kehangatan, hanya kekosongan hampa yang seolah-olah siap menelannya bulat-bulat. Ia berbaring kaku, tubuhnya terasa dingin, seolah-olah jiwanya telah mening

