Bagi Amelia, pekan-pekan berikutnya terasa seperti kabut yang mencekik. Siang hari, dia adalah karyawan yang bekerja keras, bahkan menyempatkan diri menjenguk Bima di rumah sakit. Kini, Bima sudah pulang dan menjalani rawat jalan, tapi Amelia tetap harus ekstra hati-hati. Saat malam tiba, atau kapan pun Ardi menginginkannya, hidupnya berubah 180 derajat. Dia menjadi objek tak berdaya yang harus melayani nafsu b***t bosnya. Setiap pagi, Amelia terbangun dengan sisa-sisa kelelahan dan rasa jijik yang tak mau hilang dari tubuhnya. Meskipun begitu, dia harus memaksakan senyum di depan Bima, berpura-pura semuanya baik-baik saja. Bima, yang kondisinya masih lemah, sesekali menangkap gelagat aneh dari Amelia. "Amelia, kamu sering sekali lembur sekarang? Apa kantor sedang sibuk sekali?" tanyany

