Di Kantor Langkah Bela terdengar lembut di lantai marmer kantor yang sepi. Ia menuju ruang tempat Dani biasa berada, namun sosok itu tak terlihat. Dahi Bela berkerut, rasa penasaran mulai menyelinap. “Ke mana Dani?” batinnya resah. Saat hendak berbalik, mata Bela menangkap siluet familiar di ujung koridor. Jantungnya mencelos. “Itu Maya.” Bela menegang. Ia baru saja mengetahui bahwa Maya adalah mata-mata Radit—pengkhianat yang selama ini menyusup di antara mereka. Tapi kali ini, langkah Maya tampak gelisah, tidak seperti biasanya. Gerak-geriknya cepat dan penuh tekanan. “Kenapa dia ke arah itu? Itu bukan jalur biasa.” Bela mempersempit matanya. Instingnya mengatakan ada yang tak beres. Ia segera mengikuti Maya secara diam-diam, menyelinap di balik sekat-sekat kantor. Tak lama, Maya

