Elina memandangi Jio yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, matanya sayu tapi sesekali berkedip menanggapi suara lembut sang ibu. Dengan hati-hati, Elina menyodorkan botol s**u ke mulut anak itu. "Kamu sudah sadar sekarang, nak," bisiknya penuh harap. "Kamu pasti merindukan ayahmu, ya?" Tak ada balasan, hanya tatapan kosong Jio yang membuat hati Elina kembali remuk. Tangannya gemetar seiring pikirannya yang melayang pada Radit, pria yang seharusnya kini berada di sisi mereka. Semuanya terasa rumit. Dia sudah berusaha sekuat tenaga menjaga Jio dan memastikan anak itu tetap hidup. Tapi tanpa Radit, segalanya terasa setengah. Lelaki itu seharusnya sudah bebas hari ini. Tiba-tiba pintu diketuk. Suara pelan tapi tegas. "Permisi." "Masuk," ucap Elina, berusaha tetap tenang, mes

