Zoya terkejut tatkala dengan tergesa-gesa Enzo menarik kedua tangannya ke atas kepala dan merangsek kian dekat. Napas keduanya beradu dengan mata yang saling menyiratkan keinginan. Jika biasanya Enzo bisa menguasai dirinya namun malam itu tatapan Enzo terlihat haus dan kelaparan membuat bulu kuduk Zoya meremang. “Mau menunggu apa lagi?” Zoya berbisik disertai hembusan napas hangat. Enzo mengeram rendah mendekatkan wajahnya lebih dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan. “Tidak menunggu apa pun, katakan saja jika aku keterlaluan dan kau boleh menamparku,” ucap Enzo, suaranya terdengar berat sekali menahan gairah. “Menampar? Mana mungkin, kau terlalu berharga untuk aku sakiti, Kakak Enzo.” “Kau membuatku gila, s**t!” Dan Enzo tak menahan-nahan dirinya lagi, ia kian berani mendeka

