“Mas Reiga?” Aku kaget mendengar ada orang, yang tiba-tiba berbicara di belakangku. “Kok sudah pulang?” tanyaku lagi. “Keadaan Ifa bagaimana?” bukannya menjawab, dia malah bertanya soal Ifa. “Lagi tidur, di temani sama Bibik.” Mas Reiga mendekat ke arahku, lalu mencium keningku. “Mas masuk dulu ya,” pamitnya padaku. Kenapa semua orang di rumah ini, menjadi sangat aneh. Ada apa sebenarnya? Karena matahari sudah mulai panas, aku mengajak Embun untuk segera masuk ke rumah. Setelah memberi makan, luna terlebih dahulu. “Mbun mau puding ngak?” tanyaku pada Embun. “Uding apa?” “Puding mangga, tadi pagi mama bikin.” Dia mengangguk, aku mengajaknya pergi ke dapur. “Bak Ipa, ana Buk?” tanya Embun, saat aku membantunya duduk di kursi bar. “Mbak Ifa lagi istiahat, Nak. Di temani sama Bibik,

