Teror Masa Lalu

1112 Words

Pagi di kota terasa berbeda setelah beberapa hari mereka menghabiskan waktu di Puncak. Udara tidak lagi sedingin kabut gunung, tapi cukup hangat untuk membuat Lili sadar—bulan madu sudah usai, dan hidup kembali menuntut perhatian. Lili bangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, memandang Juna yang masih terlelap. Wajah suaminya tampak lelah, tapi tenang. Ada rasa syukur yang mengalir pelan di dadanya. Setelah semua badai, ia masih bisa bangun di sisi pria yang sama, yang tak pernah benar-benar pergi. Ia beranjak ke dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Aroma nasi hangat dan telur dadar memenuhi rumah. Tak lama kemudian, langkah kaki Juna terdengar. “Pagi,” sapa Juna, suaranya masih serak. “Pagi, Mas.” Lili tersenyum, lalu menyodorkan segelas air hangat. “Sarapan dulu. Nanti Mas ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD