Keputusan yang Tertunda

1134 Words

Erika masih memegang ponselnya di telinga. Wajahnya makin tegang seiring ia mendengarkan penjelasan dari seberang sana. Alisnya berkerut, bibirnya sedikit bergetar. “Iya, Dok… saya mengerti,” ucapnya pelan. Ia menghela napas panjang. “Baik. Terima kasih.” Panggilan diputus. Sunyi kembali jatuh, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Bahkan detak jam dinding terdengar terlalu nyaring. “Apa kata dokter?” tanya ibunya, suaranya terdengar tenang, tapi jelas menahan sesuatu. Erika menelan ludah. Tangannya mengepal di atas pangkuan. “Kata dokter… kandunganku lemah.” Dewa sontak menegakkan tubuh. “Lemah?” suaranya nyaris tercekat. Erika mengangguk pelan. “Aku harus banyak istirahat. Stres nggak boleh. Kalau enggak…” Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Dan justru karena tidak dilanjutkan, s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD