Rena tertidur lebih tenang setelah obat masuk. Napasnya masih berat, tapi tidak lagi mengigau. Tangannya masih menggenggam jaket Juna, jari-jari kecil itu tak mau dilepas. Juna mencoba menarik perlahan, tapi gagal. Irma memperhatikan itu dari sisi ranjang. Dadanya menghangat dengan cara yang aneh, bukan lega semata, tapi ada rasa lain yang ikut menyelinap. “Biasanya dia susah banget tenang kalau demam,” ucap Irma lirih. “Apalagi kalau malam,” lanjtnya membuka pembicaraan setelah cukup lama hening. Juna hanya mengangguk. “Mungkin kecapekan.” Irma tersenyum kecil. “Iya… mungkin.” Tapi matanya tidak lepas dari Rena. Dari cara anak itu memiringkan wajahnya ke arah Juna. Dari gumaman kecil yang keluar tanpa sadar. “Ayah…” Kedua mata Rena masih terpejam, tapi mulutnya mengeluarkan kata y

