Selama tiga hari berturut-turut, Juwita memperhatikan kedua putranya pulang dari sekolah dan langsung menuju kotak surat di depan rumah. Selama beberapa hari itu pula, Juwita masih menunggu si kembar mengakui perbuatan mereka. Soal bagaimana mereka menghubungi Dikara dan menceritakan segala hal tentang perjalanannya ke Madiun. Saat ini, ponsel pelacak itu sudah ia sita. Namun, ia jadi bertanya-tanya, apa anak-anaknya benar percaya bahwa ponsel itu hilang. Tidak akan ada jejak pesan pada ponsel tersebut. Dan tentu saja, bukan berarti ia tidak tahu. Hari jum’at sore, seperti biasa—mereka kembali dari kotak surat dan berdiri di hadapannya, di ruang kerja sekaligus studio menulisnya. Juwita tak pernah berusaha menyembunyikan ponsel itu sesejujurnya. Bahkan, sejak selasa pagi, benda itu masih

