Dikara tahu satu hal yang pasti, Juwita menyimpan kenangan tentang siapa dirinya dulu. Tentang Jelita. Dan jika ingatan itu hidup, maka perasaan Jelita pun hidup di sana. Semua perasaan amarah, kecewa, luka—itu mungkin baru saja menghantamnya cukup kuat. Dikara menatap Juwita berbalik dan berjalan menjauh. Jantungnya merasa tak asing dengan langkah kaki itu. Ia mengenal cara wanita itu berjalan. Juwita akan meninggalkannya sendiri. Dan mungkin selamanya. Sama seperti terakhir kali mereka berada di apartemen Billy. Hari ketika wanita pergi dengan tekad yang sama—dan Dikara tahu itu. Billy menahannya tepat saat ia hendak mengejar. Tangan Billy mencengkeram lengannya, memaksanya berhenti. “Apa yang kau harapkan, Dik?” tanya Billy, pelan namun tajam. “Lepaskan aku!” seru Dikara, putus as

