Ia keluar dari tangga darurat, menekan tombol lift, dan turun ke lobi. Ia berdiri di sana, menunggu. Seperti terakhir kali—bedanya dulu ia menunggu dari dalam mobil, tanpa disadari. Tak lama ponselnya berdering. Billy. “Biarkan aku sendiri, Billy,” kata Dikara, lirih. “Juwita baru saja mengingat semuanya. Jelita sudah kembali sepenuhnya. Juwita adalah Jelita.” Billy menghela napas panjang. “Jangan lakukan hal bodoh. Meskipun dia ingat semuanya, Dikara, dia juga punya kemampuan untuk menghilang seperti dulu. Dan bedanya, kali ini, dia akan membawa si kembar.” “Aku tahu,” gumamnya. “Dia sedang turun tangga. Aku masih menunggu di lobi.” “Hati-hati,” Billy memperingatkan. “Dan apa pun yang kau lakukan—jangan coba-coba menciumnya.” “Aku sudah belajar dari kesalahan.” Dikara menutup telep

