Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Aku ingin kita bisa akur seperti dulu. Dan sebenarnya, kita memang cukup akur. Kita punya banyak kesamaan—mungkin sampai sekarang pun masih ada.” Ia menatap Juwita. “Aku juga sudah membaca buku-bukumu.” Ia bisa melihat ekspresi Juwita berubah sedikit. “Apa yang kau tulis itu menarik. Aku bisa melihat bagaimana kau mengerjakannya. Game pun sebenarnya adalah cerita. Kau hanya memindahkan kemampuanmu dari koding permainan menjadi kata-kata—dan kau melakukannya dengan sangat baik.” “Mengapa kau membaca buku-bukuku?” Juwita mengernyit. “Itu ditujukan untuk pembaca wanita.” “Aku hanya penasaran,” jawab Dikara sambil tersenyum. “Aku baru selesai membaca buku kelimamu. Tapi Ana bilang seri Born Light and Dark itu bacaan wajib.” Senyumnya melebar. “

