“Maaf, aku baru saja bercerai,” ucapnya, seolah ingin menjawab rasa ingin tahu wanita itu. “Apakah ada barang bagasi tambahan?” “Tidak. Hanya ini. Semua barang lainnya sudah kukirim lebih dulu. Ini tiket satu arah.” Setelah melewati pemeriksaan keamanan, ia melanjutkan step by ste seperti penumpang lain, menuju ruang tunggu kelas satu. Di sana, ia langsung menuju kamar mandi, menatap dirinya di cermin. Tidak seburuk yang ia bayangkan, namun jelas wajahnya menunjukkan bahwa ia habis menangis. Bibirnya sedikit bengkak akibat ciuman yang menggebu. Ia membeku di sana sejenak, hanya mencoba untuk sekadar bernapas. Setidaknya kini ia tahu, seperti apa rasanya dicium oleh Dikara—sangat dalam, panas, dan memabukkan. Namun pemikiran itu justru menusuknya lebih dalam. Kini, ia sadar bahwa wanita

