74. Mencari Ayah untuk Rian

1026 Words

Kereta mulai bergerak. Perlahan meninggalkan stasiun. Meninggalkan kota itu… dan semua yang ada di dalamnya. Rian duduk di dekat jendela. Matanya berbinar. Sejak tadi… ia tidak berhenti menatap ke luar. “Ma! Lihat… sawah!” ujarnya antusias. Belum lama… “Ma! Itu sungai ya?” Lalu beberapa saat kemudian, “Wah… banyak pohon!” Suaranya penuh semangat. Seolah semua yang ia lihat… adalah hal baru yang begitu menyenangkan. Nayla tersenyum. Menatap anaknya. Namun di balik senyum itu… hatinya terasa sesak. Karena ia sadar… hal-hal sederhana seperti ini… ternyata jarang Rian rasakan. Rekreasi. Jalan-jalan. Menikmati dunia anak-anak seharusnya. Semua itu… belum benar-benar bisa ia berikan. Karena hidup mereka selama ini… lebih banyak tentang bertahan. Daripada menikmati.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD