30. Nama yang Tidak Pernah Pergi

1194 Words

Sampai di Mansion, Zayn tenggelam dalam kesunyian yang terasa ganjil. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya dingin, tidak mampu mengusir kegelisahan yang mengendap di dadanya. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Zayn berdiri kaku sejenak, jas masih melekat di tubuhnya, napasnya tertahan tanpa sadar. Bayangan Nayla kembali muncul Senyumnya sore itu. Cara matanya berbinar saat menatap pria lain. Dan yang paling menyebalkan, ketenangannya ketika memilih pergi. Zayn mengusap wajahnya kasar, lalu melempar kunci ke atas meja marmer. “Apa yang sebenarnya kau mau?” gumamnya lirih, entah ditujukan pada dirinya sendiri atau pada bayangan yang tak kunjung pergi. Benci karena Nayla dulu meninggalkannya. Ia mengira perasaannya sederhana: benci. Benci karena Nayla berani menentangnya. Benci

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD