Akan datang kalian boleh ikut aku. Bukankah tempat kita tidak terlalu jauh?” tawar Pram pada Rita dan Nayla. Sebenarnya Nayla tidak suka berutang budi. Namun ia berpikir ini bisa sedikit menghemat pengeluaran. Ia pun melirik Rita, mencari persetujuan. “Tidak merepotkan?” tanya Nayla kemudian. Dari sorot mata Rita, ia tahu temannya itu setuju. Bagaimanapun, bepergian dengan mobil pribadi jelas lebih nyaman daripada naik angkot dan lebih irit. “Tentu tidak. Ini sekalian,” jawab Pram tenang. “Lagipula, kalau suatu hari aku lembur, aku juga tidak bisa mengantar kalian.” Nayla mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu. Pagi hari, biar kami yang jalan ke tempat Mas Pram,” putusnya akhirnya. Pram langsung menyetujuinya tanpa banyak komentar. Ia tahu, Nayla masih merasa sungkan padanya dan ia

