“Aku juga tidak mengerti, Mas Pram. Kalau Mas benar-benar ingin tahu, tanyakan saja langsung pada pimpinan kita,” sahut Nayla. Nada suaranya terdengar lebih dingin. Setiap kali mengingat kontrak itu, dadanya terasa sesak. Zayn jelas tahu betul posisinya, tahu ia butuh pekerjaan, tahu ia tidak punya pilihan, dan karena itulah Nayla ditekan sampai tak bisa melawan. “Kalau begitu aku akan tanyakan ke Pak Hidayat,” ucap Pram dengan nada tidak terima. “Menurutku, kali ini keputusan beliau benar-benar tidak masuk akal.” Nayla menggeleng pelan. “Maaf, Mas Pram… sepertinya yang mengambil keputusan bukan Pak Hidayat.” Pram mengernyit. “Apa maksudmu, Nay? Pak Hidayat itu kepala HRD. Semua urusan pegawai jelas di bawah wewenangnya.” “Benar,” jawab Nayla lirih, lalu menatap meja di hadapannya.

