Pintu ruang kerja itu terbuka. Pram melangkah masuk. Langkahnya tenang. Namun tatapannya tegas. Zayn sudah berdiri di sana. Menunggu. Seolah sejak awal memang sudah menahan sesuatu. “Duduk,” ujar Zayn singkat. Namun Pram tetap berdiri. “Ada yang ingin Tuan bicarakan?” Zayn tersenyum tipis. Namun sama sekali tidak hangat. “Kau tahu kenapa aku memanggilmu.” Pram tidak menjawab. Hanya menatap lurus. “Apakah kau yang mempengaruhi Nayla untuk berhenti?” Langsung. Tanpa basa-basi. Pram sedikit mengernyit. Namun tidak terlihat terkejut. “Bukan, Tuan.” Nada suaranya tenang. “Untuk apa saya mengatur kehidupan pribadi Nayla?” “Nayla itu manusia. Dia punya kebebasan.” Ada penekanan di kalimat terakhir. Halus. Namun jelas menyindir. Rahang Zayn mengeras. “Jangan berputar-pu

