Nayla menghentikan langkahnya. Tangannya refleks menggenggam jemari Rian lebih erat. Ia menoleh. Seorang pria berdiri di hadapannya, tinggi, rapi, dengan aura tenang yang berbeda dari kebanyakan orang. Wajahnya tegas, namun sorot matanya hangat. Tatapannya lalu beralih ke petugas keamanan dengan sikap santai, tapi jelas berwibawa. “Ini masih saudaraku, Pak,” katanya tenang. “Memang dia tidak tinggal di sini." Petugas keamanan tampak ragu. Ia melirik Nayla, lalu Rian, kemudian kembali pada pria itu. Setelah beberapa detik, ia mengangguk kaku. “Baik, Pak. Maaf sebelumnya,” ucapnya akhirnya, lalu mundur beberapa langkah. Begitu petugas itu pergi, Nayla buru-buru menoleh pada pria tersebut. “Maaf, Pak, saya tidak ingin merepotkan. Kami bisa pergi saja,” katanya cepat, nada suaranya rend

