17. Pertemuan yang Merubah Nayla

1125 Words

Pram menatap Nayla yang sejak tadi terlihat begitu diam. Perempuan itu lebih banyak memandang Rian, sesekali tersenyum tipis saat anak itu menoleh ke arahnya. Namun senyum itu cepat menghilang, digantikan wajah datar, wajah seseorang yang menyimpan terlalu banyak beban. Tanpa benar-benar ia sadari, Pram melontarkan pertanyaan untuk memecah keheningan. “Papanya si adek nggak ikut?” tanyanya ringan, sekadar basa-basi. Nayla terdiam sejenak. Jarinya mengencang di jemari kecil Rian sebelum akhirnya ia menjawab, singkat dan tanpa emosi. “Rian tidak punya papa.” Kalimat itu meluncur begitu saja, datar namun sarat makna. Dan itulah alasan Nayla jarang membuka diri. Ia sudah terlalu sering berhadapan dengan rasa ingin tahu orang lain, rasa ingin tahu yang kerap berubah menjadi tatapan iba, at

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD