Malam itu, Zayn tiba di mansion dengan suasana hati yang masih buruk. Begitu masuk ke dalam rumah, ibunya langsung menyapanya dari ruang keluarga. “Kamu sudah pulang, Zayn? Makan malam sudah—” “Aku capek,” potong Zayn singkat. “Aku tidak makan lagi.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan melewati ruang keluarga dan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Langkahnya cepat, seolah tidak ingin diganggu siapa pun. Beberapa menit kemudian, suara air dari kamar mandi terdengar cukup lama. Baru setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Zayn akhirnya merasa tubuhnya sedikit lebih ringan. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Bayangan tadi sore kembali muncul di kepalanya. Nayla yang hampir jatuh. D

