Zayn benar-benar kehilangan kendali setelah Pram meninggalkan ruangannya. Pintu baru saja tertutup, namun suasana di ruangan itu justru semakin menyesakkan. Zayn berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar, telapak tangannya menghantam meja kerja hingga suara benturannya menggema. “Sial!” geramnya pelan, tapi penuh tekanan. Bayangan Pram yang dengan tenang membela Nayla masih terpatri jelas di benaknya. Tatapan itu. Nada suara itu. Terlalu yakin. Terlalu… peduli. Tanpa berpikir panjang, Zayn menekan tombol interkom. “Veronika. Panggil Nayla ke ruanganku. Sekarang.” Nada suaranya dingin, namun terselip bara yang siap meledak. Di luar ruangan, Nayla masih berdiri dengan tubuh bersandar ke dinding. Wajahnya pucat, telapak tangannya dingin. Ia baru saja berusaha menenangkan diri ketika V

