Ketika jam dinding menunjukkan tepat pukul masuk kerja, perasaan tidak enak kembali mengendap di d**a Nayla. Sejak pertemuannya dengan Zayn di area parkir tadi, hatinya terasa tidak tenang, seolah ada sesuatu yang mengganjal, tak kasatmata namun nyata. Makin dihindari, makin bertemu, keluhnya dalam hati. Di lorong menuju gedung utama, Pram melangkah lebih dulu ke arah ruang kerjanya. Sesaat sebelum berpisah, pria itu sempat menoleh dan melambaikan tangan ke arah Nayla dan Rita. Rita langsung membalas dengan senyum lebar dan lambaian antusias. Nayla tak punya pilihan selain ikut mengangkat tangannya sekilas. Bukan karena ingin, tapi karena sopan santun. Tidak pada tempatnya bersikap dingin pada seseorang yang selama ini begitu baik. Pram tidak pernah bertanya berlebihan, tidak pernah me

