Ola masih terpaku, matanya membesar melihat Dewa yang dengan santainya mengecup punggung tangannya. Pipinya mendadak terasa panas, jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. "Om Dewa! Itu … kenapa?" Ola spontan menarik tangannya dengan gugup, wajahnya merona. Dewa hanya tersenyum kecil, matanya menatap lembut ke arah gadis itu. "Kenapa? Nggak boleh ya?" tanya Dewa santai, seolah baru saja tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Ola hampir pingsan di tempat. "Ya … ya jelas aja nggak boleh! Ini namanya pelecehan!" Ola mencubit lengannya sendiri, mencoba memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dewa terkekeh, ekspresi gemasnya semakin kentara. "Pelecehan? Kok kata-katanya serem banget sih, Ola? Itu tadi ungkapan perasaan saya, bukan pelecehan," katanya sambil menyandarkan punggu

