Namun, nasi sudah menjadi bubur. Masa lalu tak bisa dihapus, tak mungkin diulang kembali. Meski demikian, api tekad dalam d**a Kevin berkobar liar. "Hanya berpacaran, 'kan? Memangnya kenapa? Sebelum Ziva dan laki-laki itu menjalin hubungan yang lebih serius, aku pasti bisa merebutnya kembali!" tekadnya dalam hati. Tangan yang sedari tadi menggenggam erat seolah menyerap seluruh kekuatan, berubah menjadi genggaman penuh amarah. Tanpa sadar, tinjunya menghantam meja dengan dentuman yang mengguncang ruangan, membuat piring dan gelas bergetar seakan berguncang dalam gempa. "Kevin, apa yang kamu lakukan?!" Laras memecah keheningan dengan suara penuh keterkejutan, wajahnya merah padam karena marah. Namun Kevin membisu, tanpa sepatah kata pun, dia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pe

