Beberapa saat terdiam, Ziva berusaha mengusir pikirannya yang mengganggu. Kini, yang paling mendesak adalah pekerjaan yang harus segera selesai. Ia membuka pintu mobil dengan cepat, siap masuk, tapi tiba-tiba tangan Andra menggenggamnya kuat. Mata Ziva membelalak, terkejut oleh sentuhan itu.
"Maaf, Kak. Tapi Tante Andini sudah berpesan supaya aku mengantarmu, jadi aku harus tanggung jawab," ucap Andra dengan suara mantap, penuh keyakinan.
Ziva menatap dingin, menepis genggaman itu. "Tidak perlu. Aku tidak butuh tanggung jawab apa pun darimu, karena kita tidak punya hubungan apa-apa."
Andra tersenyum tipis, penuh arti. "Kalau begitu, kita harus segera punya hubungan."
Ziva mengernyit, tatapannya tajam. "Kamu gila, ya? Benar-benar buat emosi!" katanya dengan nada keras dan penuh kekesalan.
"Terserah kamu mau bilang apa, Kak. Gila, edan, atau apa pun-"
"Itu sama saja." Ziva memotong ucapan Andra dengan geram.
"Ya, memang. Yang penting, kamu mau aku antar. Lagi pula, kamu juga terburu-buru, 'kan?"
Tanpa menunggu jawaban, Andra masuk ke dalam mobil Ziva dan mengambil kunci yang tertancap di sana. Seperti sengaja menegaskan siapa yang memegang kendali saat ini.
"Apa-apaan sih, kamu? Sini kuncinya!" Ziva mendelik, tangannya meraih kunci mobil yang tergenggam erat di tangan Andra.
Namun meski Andra lebih muda, tubuhnya jangkung dan kuat, membuat kunci itu sulit dijangkau.
"Ambil saja kalau bisa," tantang Andra dengan senyum nakal yang membuat d**a Ziva mendadak sesak.
Ziva melompat-lompat kecil, berharap meraih kunci itu, tapi tubuhnya malah tersandung dan tanpa sengaja jatuh ke dalam pelukan Andra. Jantungnya berdetak keras, seperti mau meledak keluar dari rongga d**a. Entah perasaan apa itu, tapi satu yang dia yakin, jatuh hati kepada Andra? Itu adalah hal yang mustahil. Sangat tidak mungkin.
Di sisi lain, Andra sendiri merasa kikuk, wajahnya memerah, tapi sifat tengilnya mendorongnya untuk bersikap santai. "Nyaman ya, Kak, berada di pelukanku?"
Mendengar hal itu, Ziva buru-buru melepaskan diri, mata tajam menatap ke arah Andra. "Sebenarnya apa sih, mau kamu? Kenapa pagi-pagi seperti ini kamu harus mengganggu ketenanganku? Aku lagi buru-buru dan kalau sampai terlambat, semua pekerjaanku akan berantakan!" Suaranya meninggi, menyiratkan betapa serius dan penuh tekanan pagi itu baginya.
Namun di balik amarah itu, ada rasa aneh yang tiba-tiba menyeruak, sebuah perasaan yang bahkan dirinya sendiri belum bisa mengerti.
Andra menarik napas panjang, suaranya pelan saat berkata, "Santai, Kak. Aku minta maaf kalau sudah mengganggumu, tapi aku cuma ingin mengantarmu ke kantor. Itu saja." Tatapannya keras, penuh tekad, seperti mencerminkan sikapnya yang tak kalah keras kepala dari Ziva.
Ziva menatap sejenak, hatinya bergejolak, tapi tak bisa lagi menolak. "Baiklah, sekarang kita pergi," ucapnya akhirnya, melangkah cepat menuju mobil Andra.
Andra tersenyum lebar, wajahnya bersinar penuh semangat. "Yes!" katanya sambil memberi gestur tangan, kemudian dengan lincah menyusul Ziva masuk ke dalam mobil.
Mesin mobil meraung halus, mereka meninggalkan kediaman Darwin dalam keheningan yang penuh makna.
***
Setibanya di tempat tujuan, Ziva menatap Andra dengan tegas. "Terima kasih sudah mengantarku sampai di sini. Lain kali, kamu nggak perlu repot-repot jemput aku lagi. Kita bertemu hanya memang karena urusan pekerjaan."
Andra membalas, suara santai tapi penuh perasaan, "Maaf, tapi aku nggak bisa janji."
Ziva mendesah pelan, lalu menutup pintu mobil dengan dingin, langkahnya menjauh meninggalkan perasaan campur aduk yang tak mudah diurai.
Sementara Andra hanya tersenyum tipis, perlahan membuka kaca mobil. "Kak, jangan lupa. Kita harus bertemu lagi nanti," ucapnya dengan nada yang tenang, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya itu.
Ziva hanya diam, mendengar tapi tak menjawab sepatah kata pun. Langkah kakinya tetap tegap, mengarah ke kantor dengan sisa-sisa kebekuan di hatinya.
Setelah memastikan Ziva aman dan selamat tiba di tempat tujuan, Andra pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
*
"Sepertinya kamu sudah semakin dekat dengan rekan kerjamu itu," kata Samuel, sejak tadi ia mengamati kedekatan Ziva dan Andra dengan mata penuh curiga.
Suara itu menusuk hati, tetapi Ziva berusaha menanggapi dengan santai. "Biasa saja," jawabnya datar, namun ada ketegangan yang tersembunyi.
"Oh, ya? Sejak kapan rekan kerja bisa antar-jemput kamu setiap hari seperti itu? Kecuali ... kalian memang ada hubungan lebih dari itu," sanggah Samuel, nadanya seperti menyulut api amarah yang tersembunyi.
Seketika, tatapan Ziva berubah menjadi tajam, suaranya dingin dan penuh peringatan, "Sudah aku bilang berkali-kali, jangan pernah ikut campur urusan pribadiku!"
Samuel menghela napas, tak mau menyerah. "Oke, aku tidak akan mengurusi hidupmu lagi. Tapi tolong, beri aku waktu. Aku harus bicara denganmu. Ada hal penting yang harus aku sampaikan."
Ziva menatap dingin. "Soal apa?" tanyanya singkat, penuh waspada.
"Soal kita. Please, aku mohon, kamu jangan menolak. Aku janji, setelah ini aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi kalau memang kamu sama sekali tidak peduli," kata Samuel, memohon dengan amat sangat, berharap Ziva akan memberinya kesempatan.
Ziva terpaku, napasnya tercekat di d**a sebelum akhirnya mengambil keputusan dengan mantap. "Baiklah, setelah pekerjaanku selesai, kita bicara," ucapnya dengan nada dingin yang sulit ditembus.
Samuel mengangguk pelan. "Aku juga lagi sibuk sekarang."
Mereka pun berpisah, masing-masing tenggelam dalam dunia mereka sendiri, berjarak tapi seolah beban mengganjal di antara mereka.
*
Tak lama kemudian, di sudut kantin yang sepi, Ziva dan Samuel duduk berhadapan. Tatapan mereka bertabrakan dengan tegang, udara di sekitar terasa berat, penuh ketegangan yang hampir bisa dipatahkan.
Ziva terlebih dulu memecah keheningan dengan nada datar, "Apa sebenarnya yang mau kamu bicarakan? Aku masih punya urusan lain."
Samuel menelan saliva, matanya tak berani menghindar. "Aku Mohon, kamu jawab dengan jujur," pintanya, suaranya serak oleh getar emosi. "Apa kamu benar-benar tidak punya perasaan sedikit pun untukku? Apa kamu sama sekali tidak pernah menghargai perasaanku? Kita sudah lama saling kenal, kamu tahu betapa dalamnya aku mencintai kamu, Zi. Apa kamu tidak pernah mau mencoba membuka hatimu untukku?"
Hening seolah menelan ruang, meninggalkan Ziva terpaku, terombang-ambing antara kata-kata yang menggenggam erat harapan dan kenyataan yang menusuk jiwa.
Mendadak, jantung Ziva berdetak seperti genderang perang yang menggema di dadanya. Di satu sisi, dia tak ingin menyakiti perasaan Samuel, pria yang selama ini sudah sangat baik padanya. Namun di sisi lain hatinya membatu, dia tak pernah menyimpan rasa lebih dari sekadar sahabat.
"Aku minta maaf, Sam. Selama ini, kita mungkin memang cukup dekat, tapi itu hanya sebagai teman. Aku tidak pernah berniat untuk lebih. Kamu teman yang baik, tapi kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih dariku." Suara Ziva bergetar, menahan sesak.
Samuel menatap tajam, sebuah pertanyaan terlontar, "Apa itu karena kamu sudah menyukai Andra, polisi berondong itu?"
"Polisi berondong?" Ziva tersentak, ia lalu menggeleng pelan, mencoba menenangkan diri. "Saat ini, aku cuma mau fokus dengan pekerjaan."
Namun, Samuel tak menyerah begitu saja. Wajahnya berubah serius, memecah keheningan. "Kamu harus tahu, Zi. Sebenarnya ... aku sudah dijodohkan sejak kecil. Aku selalu menolak karena di hati ini hanya ada kamu. Tapi sekarang, aku terpaksa harus menerimanya karena aku tahu aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Tapi satu-satunya cara membatalkan perjodohan itu ... hanya kalau kamu mau menjadi kekasihku. Kita menikah dan hidup bersama, baru aku bisa lepas dari perjodohan itu."
Kata-kata Samuel menusuk kalbu Ziva seperti petir di siang bolong. Dia terpaku, gelombang kejut dan kebingungan menghantam pikirannya.
Bersambung ...