Bab 09. Tak Punya Pilihan

1243 Words
"Aku sudah dijodohkan sejak kecil. Aku terpaksa menerimanya karena aku tidak bisa mendapatkan hati kamu, perempuan yang aku cintai. Tapi kalau kamu mau menjadi kekasihku dan kita menikah, perjodohan itu masih bisa dibatalkan. Setelah kita menikah nanti, aku yakin, kamu pasti bisa belajar untuk mencintaiku. Yang penting sekarang, kamu mau dulu." Kata-kata Samuel terus bergema di dalam benak Ziva, menghantui setiap sudut pikirannya meski ia sudah berusaha menolak dengan segenap jiwa. "Maaf, Sam. Aku tidak bisa. Pernikahan itu bukan permainan." Ziva menatap kosong ke depan, hatinya terbelah antara tegas dan ragu. "Kalau memang kamu tidak mencintai perempuan itu, kamu berhak menolaknya. Tapi kalau memang itu yang terbaik, kenapa kamu tidak mencobanya? Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang, mencintai bisa dilatih setelah menikah? Iya, 'kan? Apalagi, kamu dan perempuan itu sudah lama saling mengenal, teman masa kecil. Berbeda jauh dengan kita yang baru berteman beberapa tahun saja. Seharusnya ini lebih mudah, Sam." Di satu sisi, Ziva tak sanggup memberi lampu hijau atau harapan berlebihan pada Samuel dengan alasan seadanya. Dia sama sekali tak mencintai pria itu, meski Samuel sudah bersikap baik padanya selama ini, namun baginya lelaki tersebut tak lebih dari seorang sahabat. Namun di sisi lain, Ziva juga merasa kasihan terhadap Samuel yang terlihat sangat kecewa, apalagi harus menerima perjodohan yang sama sekali tak diinginkan. Tetapi, apa yang bisa dia lakukan? Mencampuri urusan orang lain juga tidak baik. "Maafkan aku, Sam. Aku juga nggak bisa memaksakan diri. Kamu laki-laki yang baik, kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku," gumam Ziva dalam hati. Ziva mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh. Dia melirik jam di pergelangan tangannya dan saat ini sudah waktunya untuk bertemu dengan Andra, seperti biasa membahas pekerjaan mereka yang sudah hampir selesai. *** Samuel duduk terdiam di ruang kerjanya, pandangannya kosong menatap layar komputer. Hatinya memberontak, berat menanggung keharusan yang tak pernah ia pilih sendiri. Di luar sana, waktu terus berjalan tanpa ampun, bukan nanti malam, bukan besok atau lusa, melainkan satu jam lagi, tepatnya di saat jam makan siang, hidupnya akan dipaksa bertemu dengan wanita yang seharusnya jadi pendamping masa depannya, teman kecil yang telah dijodohkan untuknya. Hermawan sudah mengatur segalanya dengan rapi, mempertemukan dua keluarga inti di sebuah restoran yang sama sekali tak membangkitkan semangat Samuel. Setiap detik menjelang pertemuan itu terasa seperti penjara tak terlihat yang semakin menguat mengekangnya. Tok, tok, tok! Suara ketukan pintu memecah kekalutan. Pintu terbuka, sosok ayahnya muncul tanpa sepatah kata basa-basi. "Sam, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Hermawan dengan suara tegas namun tenang. Samuel mengangkat kepala, suaranya lirih penuh keletihan, "Belum, Yah." Hermawan mendesah, tanpa banyak pilihan berkata, "Ya sudah, nanti bisa dilanjutkan lagi. Sekarang kita harus ke Restoran X. Jangan sampai keluarga Sarah dulu yang sampai di sana." Samuel menatap jam di pergelangan tangan kirinya, dadanya sesak. "Masih satu jam lagi, Yah. Lagi pula, restoran itu tidak terlalu jauh," balasnya setengah mengeluh, rasa malas dan keengganan membanjiri dirinya. Mengapa harus terburu-buru pada sebuah pertemuan yang tak pernah dia inginkan? Hanya ada satu hal yang menguasai pikirannya, betapa kosongnya harapan dalam setiap langkah yang akan ia ambil nanti. "Apa salahnya kita datang lebih dulu? Lagi pula, lebih cepat bukankah lebih baik? Besok, Sarah sudah harus langsung bekerja di Rumah Sakit Jakarta. Waktunya sangat terbatas," kata Hermawan dengan suara yang bergetar tipis, seolah membawa beban harapan yang berat. Samuel menghela napas panjang, tatapannya kosong. "Ya sudah, kita pergi sekarang," jawabnya pelan, mencoba menepis rasa gelisah yang merayap di dadanya. Hermawan mengangguk, kemudian berkata pelan, "Ayah tunggu kamu di luar." Dia lalu melangkah keluar dari ruangan itu, menyisakan keheningan yang makin menyesakkan. Samuel hanya bisa menutup matanya sejenak, menahan amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu. "Mungkin aku bisa bertemu dulu dan mencoba menunda perjodohan ini," gumamnya dalam hati, harapan kecil yang hampir pudar. * Kini, Samuel duduk di meja makan restoran itu, berhadapan dengan ayahnya dan keluarga Sarah. Suasana terasa kaku, seperti tegangnya tali yang siap putus kapan saja. Percakapan yang mengalir di antara mereka bukan sekadar kata, tapi lembaran waktu yang Samuel ingin segera tutup. "Sam, sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu. Bagaimana pekerjaanmu? Lancar?" tanya Abimanyu, ayah Sarah, dengan senyum ramah. Samuel mengangguk, jawabnya datar, "Iya, Om. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar." kata-kata itu seolah diletakkan dengan hati yang berat dan ragu, menutupi gelombang kegelisahan yang tak ingin dia tunjukkan. Di balik senyum dan kata itu, Samuel tahu betapa rapuhnya segala yang sedang ia hadapi. Seperti gelas kaca yang digenggam erat, tinggal menunggu detik untuk pecah berkeping-keping. "Sam, kamu ini semakin tampan dan hebat," ujar Sisilia kagum. Namun kata-kata berikutnya seolah penuh tekanan, "Rasanya, Tante tidak sabar ingin membicarakan soal perjodohan kalian. Lihatlah Sarah sekarang, dia sudah dewasa, bahkan menjadi seorang dokter! Dia juga sangat cantik, 'kan? Dan yang paling terpenting, kalian sudah saling mengenal sejak kecil. Sarah pasangan yang cocok untuk kamu, bukan?" Pipi Sarah merona, menunduk malu. "Ma, jangan berlebihan. Aku jadi malu, nih. Walaupun aku hebat, aku nggak akan bisa menandingi Kak Samuel. Dia lebih hebat, bisa memecahkan kasus rumit. Dia justru yang terbaik." Mendengar pujian itu, Samuel hanya tersenyum datar, tanpa ada secuil kebanggaan. "Biasa saja. Itu sudah menjadi pekerjaanku. Sama seperti kamu, sebagai dokter tugasmu mengobati pasien." Sarah mengangguk pelan, kemudian menatap Samuel dengan harap. "Iya, Kak, kamu benar. Oh ya, malam ini kamu sibuk nggak, Kak? Kalau nggak, ayo kita jalan bareng. Aku sudah lama nggak pulang ke Indonesia dan banyak yang berubah. Temenin aku jalan-jalan, ya?" Ada jeda hening, seolah kata-kata Sarah membekap udara di ruangan itu, menunggu jawaban yang tak kalah berat. Sebelum Samuel sempat menjawab, Hermawan sudah lebih dulu memotong dengan nada tegas, "Tentu saja, Sarah. Samuel punya waktu malam ini. Bahkan nanti sore dia sudah pulang kerja. Samuel pasti tidak keberatan menemani kamu jalan-jalan." Lalu Matanya tertuju pada Samuel, memancarkan tekanan tak terucap. "Iya 'kan, Sam?" Samuel menelan salivanya dengan susah payah, enggan tapi tak punya pilihan. Dengan ragu, ia menjawab dengan suara yang terdengar berat, "Iya. Nanti malam aku akan jemput kamu." "Oke. Makasih ya, Kak." Sarah tersenyum penuh kemenangan, hatinya melonjak bahagia meski samar tahu sikap Samuel kini mulai berubah. Mungkin pria itu tak sepenuhnya menerima perjodohan ini, tapi itu bukan alasannya untuk menyerah. Justru sekarang, ia harus gigih berjuang merebut hati Samuel. *** Meski Andra sudah mencurahkan segalanya, mempersembahkan perhatian dan usaha tanpa batas untuk Ziva, namun hatinya tak henti-hentinya merasakan kesedihan. Entah mengapa, perempuan itu malah terlihat semakin menjauh. Setiap langkahnya untuk mendekat, selalu berbalik menjadi jurang pemisah yang tak terjangkau. Ziva adalah wanita mandiri yang sulit dijangkau, selalu menolak niat tulusnya. Seperti hari ini, meski sering terjadi sebelumnya, padahal dia sudah datang ke tempat Ziva bekerja, berniat mengantar wanita itu pulang dengan sepenuh hati. Tapi dengan dingin, Ziva menolak, bahkan memilih memesan taksi online lalu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun yang tersisa. Sementara Andra? Ia hanya bisa menatap kepergian Ziva tanpa bisa berbuat apa-apa. "Ziva benar-benar semakin susah dikejar. Tapi, justru itu yang buat aku semakin bersemangat," gumam Andra, tekadnya membara di balik putus asa yang perlahan menggerogoti hatinya. "Lihat saja nanti, aku pasti bisa mendapatkan Ziva sebelum ada pria lain dalam hidupnya. Aku yang akan lebih dulu masuk ke ruang hatinya," bisiknya penuh keyakinan, menolak menyerah walau badai kekecewaan sudah menghadang. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu menghentikan lamunannya. Tok, tok, tok! "Den Andra, ada tamu yang mau bertemu." Suara sang ART membuyarkan lamunan Andra, membuat pria itu tercekat seketika. Dengan langkah tergesa, Andra menuju pintu, namun yang berdiri di sana bukan hanya ART, melainkan sosok yang menggetarkan seluruh jiwa dan raganya. "Kamu?" Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD