"Andra, hentikan!" teriak Ziva dengan suara nyaris putus asa, tangan rampingnya mencengkeram pergelangan sang perwira agar pukulan itu tak lagi mendarat. "Andra, aku bilang stop, Andra!" Suaranya bergetar, campuran antara ketakutan dan harapan agar keganasan itu mereda. Namun Andra tetap melangkah maju, tatapannya membara penuh amarah, meski tubuh mangsa sudah babak belur, penuh luka. Hatinya belum puas, adrenalin membakar hingga ucapannya membentak kepada rekannya yang baru tiba, "Urus orang ini. Bawa ke Kantor Polisi sekarang juga! Dia harus diinterogasi secepatnya!" Entah apa yang ada di dalam pikiran Andra saat ini. Dia seperti tidak bisa berpikir dengan jernih, hanya ingin segera menghukum pria yang sudah mengganggu kekasihnya. Tapi Ziva memotong tegas, dengan nada dingin yang meny

