Saat Dewi berusaha mendekatinya lagi, Byantara menegakkan bahunya, menatap Dewi tanpa ragu sedikit pun. Tidak ada lagi sisa kelembutan di wajahnya, yang tersisa hanya ketegasan seorang lelaki yang telah memilih. “Cukup, Dewi,” ucapnya dingin namun jelas. “Aku tidak ingin memperpanjang apa pun lagi.” Dewi masih mencoba mendekat, suaranya melembut seolah ingin kembali ke masa lalu. “Byan… aku ke sini karena aku masih peduli. Aku hanya ingin kamu ingat, kita...” “Tidak ada kita,” potong Byantara tegas. “Yang ada sekarang hanya aku dan istriku.” Ia melangkah satu langkah ke belakang, menjaga jarak seolah keberadaan Dewi saja sudah mengancam ketenangannya. “Aku minta kamu pulang. Sekarang.” “Kenapa kamu begitu takut?” Dewi tertawa kecil, getir. “Takut istrimu tahu siapa aku sebenarnya bagi

