“Mey… kamu nggak apa-apa?” Meylin menutup keran, mengambil handuk kecil, lalu mengusap wajahnya perlahan. “Aku cuma mual,” ujarnya pelan. “Mungkin kecapekan.” Byantara langsung memeluknya, penuh khawatir. Dan di situlah Meylin menyadari sesuatu yang paling menyakitkan, Pelukan itu masih hangat. Perhatiannya masih nyata. Tapi hatinya… sudah tidak lagi merasa aman. Mungkin mas Byan memang baik sekarang, tapi aku tidak mau hidup menunggu kapan masa lalu itu kembali mengejar aku. Malam itu, Meylin tidak langsung pergi. Ia terlalu rapi untuk itu. Terlalu bijak untuk membuat keributan. Namun satu keputusan sudah mengakar kuat di hatinya: Ia akan pergi. Diam-diam. Tanpa pertengkaran. Tanpa air mata di hadapan Byantara. Karena bagi Meylin, meninggalkan bukan berarti kalah, mela

