41. Saat Hanya Kita Berdua

1099 Words

Byantara membuka pintu kamar mandi perlahan, memastikan lantai tidak licin. Ia menurunkan Meylin pelan-pelan ke kursi kecil dekat wastafel. “Bisa berdiri sebentar?” tanyanya. Meylin mengangguk, meski suara degup jantungnya hampir terdengar sendiri. Byantara menopang pinggangnya secukupnya, menjaga agar ia tidak jatuh. “Aku… bisa sendiri nanti,” ucap Meylin gugup. “Aku tunggu di luar,” balas Byantara langsung. Tapi sebelum ia sempat melangkah, Meylin memanggil cepat, “Mas Byan!” Byantara menoleh. “Tangannya… boleh kamu lepaskan pelan-pelan? Aku takut keseimbanganku hilang.” Byantara berhenti. Ia kembali mendekat, wajahnya dibuat setenang mungkin meski jelas-jelas ia sendiri sedikit salah tingkah. “Pegangan di sini.” Ia mengambil tangan Meylin dan menaruhnya pada pegangan dinding. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD