Byantara akhirnya menarik kursi dan menyuruhnya duduk. Ia mengambil salep dan handuk kecil tanpa banyak bicara. Dari tempatnya duduk, Meylin hanya bisa menatap punggung Byantara yang tegap dan meyakinkan. Entah kenapa, ada rasa bersalah tapi juga hangat yang merayap di dadanya. Ketika Byantara kembali, ia berlutut tepat di depan Meylin. Pelan, tanpa terburu-buru, ia memegang pergelangan kaki Meylin dan mulai mengoleskan salep. Sentuhannya lembut. Teratur. Berhati-hati. Justru kelembutan itulah yang membuat Meylin menelan ludah gugup. “Maaf… kalau sakit,” ujar Byantara perlahan. “Tidak… tidak sakit,” jawab Meylin cepat. Yang sebenarnya ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih menenangkan, karena untuk pertama kalinya ia merasakan perhatian sebesar ini dari suaminya sendiri. Byant

