Sinar matahari menerobos tirai tipis, menimpa wajah Meylin yang masih terlelap. Perlahan ia bergerak kecil, seolah mencari posisi yang lebih nyaman. Gerakan itu membuat Byantara terbangun. Awalnya ia hanya membuka mata sedikit… lalu matanya langsung membesar. Tangan kanannya melingkari pinggang Meylin. Kakinya menindih kaki Meylin. Dan kepala Meylin… berada di lengkungan bahunya, tepat di d**a kirinya. Napas Meylin hangat menyentuh kulitnya. Byantara terpaku. Detik itu juga darahnya seperti berhenti mengalir. “A-astaga…” bisiknya, suara hampir tidak terdengar. Ia menelan ludah, mencoba tidak bergerak. Tapi justru semakin ia sadar, semakin terasa betapa dekat tubuh mereka. Aroma lembut sabun mandi Meylin semalam masih tertinggal di rambutnya, membuat jantung Byantara memukul keras

